Rabu, 21 Februari 2018

Electric Shock - Chapter 2

Chapter 2  - HBD

Atha mondar-mandir sambil meremas bagian bawah roknya. Posisinya sekarang berada di koridor lantai 3 Gedung IIS. Butuh keberanian yang besar untuk sampai di deretan kelas XII, apalagi ia baru sehari sekolah di sini. 

Atha melongok ke dalam kelas XII IIS 1 melalui pintu yang sedikit terbuka. Terlihat seorang guru sedang mendongeng untuk menidurkan siswa-siswinya. Masih sekitar 15 menit lagi bel pulang untuk kelas XII berbunyi. Sedangkan untuk kelas X dan XI bel pulang sudah berbunyi sekitar empat puluh lima menit yang lalu.  

Tik tok tik tok tik tok 

14:50

Sepuluh menit lagi... 

Deg deg deg deg

Tit tit tit tit tit (jangan ngeres :'v)

120, 127, 130, 135
   
Heart Beat Detector milik Atha mulai berbunyi dan menunjukkan angka merah. Artinya, sebentar lagi kekuatan yang ia punya akan muncul. Ia semakin panik, jika kekuatannya sampai muncul, maka ia berada dalam masalah.   

Duh, gimana nih. Apa gue pulang aja ya? Tapi nasib HP gue gimana dong? Rahasia guee...!  

Oke, tenang. Tarik nafas. Buang. Tarik nafas. Buang. Tarik nafas. Buang. Semakin ia panik, semakin cepat detak jantungnya.  

14:59

Satu menit lagi... 

Tit tit tit tit tit tit

137, 139, 140, 145

Kriinnngggg....

Para siswa kelas XII langsung berhamburan keluar kelas. Begitu juga dengan kelas milik Yafi yang sedari tadi ditunggu oleh Atha.     

Keringat dingin mulai mengucur dari pelipis gadis itu. Diperhatikannya Heart Beat Detector yang sedari tadi terus berbunyi. Apalagi sekarang HBDnya menunjukkan tepat angka 150, angka patokan saat kekuatan Atha muncul.  

Oh tidak! Oh tidak! Ini gawat! Jangan sampe ada yang nyentuh anggota badan gue kecuali yang tertutup kain!

"Hei!" tiba-tiba Yafi menepuk punggung dan membalikkan badan Atha yang membelakanginya, lalu tersenyum lebar. Atha yang begitu khawatir seseorang akan tersetrum karenanya, menjadi sedikit lega karena koridor sudah sepi. 

Pandangan Atha kembali terpaut dengan mata biru safir itu. Kepanikannya berangsur menghilang. Detak jantungnya kembali normal, terbukti dengan HBDnya yang tidak lagi berbunyi.  

Mata itu, kenapa bikin deg-degan gue ilang? 

"Gue tau kok lo terpesona sama ketampanan gue. Nggak usah lama-lama natep mata gue, ntar lo jatuh cinta lagi. Kan gue yang repot. Ya nggak, Lovely?" tuturnya sambil melirik nametag gadis itu. 

Krik krik krik krik.. 

Atha melongo mendengar penuturan narsis dari cowok di depannya itu. Gerakan menepuk jidat dan tembok di sampingnya tiga kali bergantian, refleks Atha lakukan agar ucapan narsis itu tidak terwujud. "Amit amiitt. Amit amiitt!" gumamnya yang masih dapat didengar jelas oleh Yafi. 

"Loh, kok amit-amit sih? Gue kan ganteng, banyak yang naksir, kenapa malah lo kebalikannya?" tanyanya masih dengan tingkat kenarsisan yang tinggi.  

"Maaf ya, Kak. Tingkat kenarsisan lo itu terlalu membumbung tinggi. Ati-ati jatohnya sakit." cibir Atha membuat Yafi tergelak. 

Teringat akan tujuan awalnya menunggu Yafi, Atha langsung to the point, "Mana HP gue Kak?"  

Yafi merogoh saku celananya dan langsung menyodorkan ponsel berlogo buah keluaran terbaru. "Nih. HP kok isinya cuma game," cibirnya.

"Siapa peduli?" jawab Atha acuh. Ia memilih untuk langsung pulang ke rumah karena ponselnya sudah kembali. Saat ia akan menghubungi Pak Bowo—sopir di rumah, ponselnya kehabisan baterai. Atha mendengus. Bagaimana cowok ini bisa menghabiskan baterai ponselnya? "Lo bikin HP gue lowbatt Kak? Kurang kerjaan banget."

Yafi menaikkan satu alisnya. "Gue puas-puasin main game di HP lo. Semua game udah gue coba. Nggak ada yang menarik."  

Kening Atha mengernyit. Kalo nggak ada yang menarik kenapa bisa sampe lowbatt coba? 

Daripada menghabiskan waktu dengan berbicara yang tidak penting, Atha mempercepat jalannya ke arah gerbang sekolah. Menunggu taksi lewat karena ia tak dapat melakukan apapun dengan ponselnya. 

Apa gue pake kekuatan gue buat ngecharge HP aja ya? Eh nggak bisa, ntar kalo ketauan Kak Yafi gimana? 

"Vel, tungguin gue dong! Masa orang ganteng ditinggalin."

"Siapa peduli? Lagian kan gara-gara lo HP gue mati dan nggak bisa minta jemput. Dan gue harus naik taksi yang bahkan mungkin jarang lewat daerah sini." ucap Atha ketus.  

"Bilang aja lo minta gue anter pulang." ucap cowok itu dengan PDnya. Atha mendengus, "Nggak usah kePDan deh Kak." 

"Ayo, pulang bareng gue aja. Atau, lo mau rahasia lo kebongkar?" ancam Yafi dengan senyum miring. Mendengar kata 'rahasia' membuat tubuh Atha menegang. Rahasia? Rahasia yang mana? Soal kekuatan gue atau apa? Oh! Rahasia di HP gue! Apa Kak Yafi tau semuanya? Ah, bego!  

"Rahasia apaan? Sok tua!" 

"Yang bener itu sok tau, bukan sok tua." koreksinya.  

"Suka-suka gue dong. Rahasia apa yang lo tau?" tanya Atha penasaran, ia harus memastikan rahasia apa yang Yafi ketahui tentang dirinya. 

"Pulang bareng gue dulu, baru gue jawab pertanyaan lo."

To be continue...

Electric Shock - Chapter 1

Chapter 1 - Pelo


Atha memandangi satu persatu teman sekelasnya. XI MIPA 1. Entah kenapa ia ditempatkan di kelas yang konon katanya unggulan ini. Ia baru saja dipersilahkan duduk setelah sebelumnya ditertawakan oleh seluruh penghuni kelas karena cara bicaranya yang menurut mereka unik saat perkenalan tadi. Unik dari mananya coba? Orang cadel begitu. Mungkin saja akibat saking langkanya orang cadel, mereka sampai menganggap bahwa Atha unik karena termasuk salah satu spesies langka. 

 "Hai Pel! Kenalin gue Farizka. Panggil aja Fafa. Salam kenal." sapa seorang gadis dengan nada ceria yang duduk di depan bangku Atha. 

Mendengar kata 'Pel' membuat Atha ragu jika cewek yang bernama Fafa itu benar menyapanya. Pasalnya, nama lengkap Atha tidak ada unsur 'Pel'nya. Meskipun begitu Atha tetap membalas sapaan itu. "H-hai. Gue Lovely, atau panggil aja Atha."

Hidung Fafa kembang kempis. Cewek itu tampak berfikir. "Nggak ah. Gue manggil lo Pelo aja. Pelo kan artinya sama kaya Cadel. Hehe."

"Tap–" Baru saja Atha akan menyanggah, seorang guru masuk dan langsung memulai kelas. Membuat Atha mengurungkan niatnya.  

"Good Morning, class. How's life?" 

 .

Harapan Atha untuk menjadi unseen girl sepertinya harus pupus sekarang juga. Gadis yang duduk di depan bangku Atha terus saja berceloteh dan berulang kali memuji skill Bahasa Inggris Atha yang sangat fasih karena ke-cadel-annya itu sampai Atha bosan. Bahkan beberapa teman sekelasnya pun sekarang sedang berbisik-bisik dengan murid kelas lain tentang dirinya di sepanjang koridor. Oh ayolah, abaikan saja aku! Untuk apa repot membicarakan hal yang tidak penting?  

Fafa menarik paksa lengan Atha yang masih terbungkus blazer hijau toscanya. Beruntung International White School tidak memiliki aturan seragam. Jadi dia bebas memakai apa saja asalkan bahan dan modelnya masih tergolong seragam sekolah.


Atha ternganga melihat betapa luasnya kantin II yang bahkan penuh sesak dengan antrian ratusan siswa kelas XI. Ada banyak koki yang menyediakan berbagai macam makanan. Maklum saja, di sini adalah sekolahnya para anak borjuis.

"Lo mau makan apa Pel? Biar gue ambilin. Tenang aja, makan di sini gratis kok." tawar Fafa yang sukses mengalihkan fokus Atha.  

"Em, gue pengen Bakso Malang sama jus apel dicampur jeruk." putusnya setelah melihat-lihat menu kantin. 

"Oke, lo tunggu di sini ya," balas Fafa yang kemudian langsung ikut mengantri dengan para siswa lainnya.  

Seorang siswa menarik bangku dan meletakkan nampan makan siangnya di depan Atha. Gadis itu sedang asik memainkan game di ponselnya sampai tidak menyadari suara gaduh yang dibuat oleh siswa tadi. 

"Ehhmm!" lelaki tersebut sengaja berdehem untuk mengalihkan perhatian Atha, namun tetap saja gadis itu tidak bergeming.  

Merasa diabaikan, lelaki itu merebut ponsel Atha kemudian nyengir lebar mengetahui usahanya berhasil. Gerakan Atha untuk merebut kembali ponselnya terhenti karena matanya terpaut dengan mata biru safir milik lelaki itu. Sungguh damai dan menenangkan hatinya. 

"Kak Yafi? Kok di sini? Kenapa nggak makan di kantin III?" ucapan Fafa yang tiba-tiba sudah duduk manis di samping Atha memutuskan tautan mata keduanya.  

"Hai Fa. Gue lagi pengen makan di sini aja, sambil jalan-jalan." jawab lelaki yang bernama Yafi dengan santai. 

"HOI Pel! Dari tadi ngeliatin Kak Yafi mulu. Naksir ya?" Atha yang tertangkap basah sedari tadi sedang memperhatikan Yafi segera memutar otak untuk mencari alasan.

"Ng-nggak kok. Gue cuma mau minta balik HP gue." kilahnya setengah benar. Fafa yang bingung menaikkan alisnya meminta Yafi untuk menjelaskan.

"Ini maksudnya?" Yafi memutar-mutar ponsel Atha dengan alis terangkat sebelah. "Eitss," Cowok itu dengan sigap mengangkat ponsel Atha tinggi-tinggi begitu Atha bergerak untuk merebutnya. "Kalo mau HP lo balik, minta ke gue nanti pas pulang sekolah." tandasnya sebelum meninggalkan kedua gadis yang terbengong-bengong karena ulahnya.  

To be continue...

Electric Shock - (Bukan) Prolog

(Bukan) Prolog

Cerita ini terinspirasi dari salah satu film yang dibintangi oleh Punpun Sutatta, apabila ada kesamaan cerita bukan bermaksud untuk memplagiat. 

Selamat membaca!  


International White School
Lovely Agatha Serafina

Seorang gadis memandangi nametag berlogo sekolahnya yang baru. Sekolah baru, lingkungan baru, kelas baru, guru baru, seragam baru, dan teman baru, lagi. Tunggu, mungkin kata teman baru tidak akan ada lagi di kamus hidup gadis itu. 

International White School adalah sekolah Lovely yang ke-15 dalam setahun terakhir ini. Bukan, bukan karena ia seorang bad girl atau pembuat onar, ia adalah siswi pendiam dan berprestasi di kelasnya. Hanya saja, ia sudah bosan selalu berpindah sekolah. Ia juga bosan dengan kekuatan—atau bisa disebut kelemahan—yang ada pada dirinya. Setiap kali pihak sekolah mengetahui kekuatan yang ia punya, ia akan langsung mengundurkan diri dari sekolahnya dan mendaftar ke sekolah lain, tentu dengan kekuasaan ayahnya agar sekolah lamanya itu menutup mulut.

"Non Atha?" suara Bi Nani mengintrupsi lamunan Lovely. Agatha ataupun Atha adalah nama panggilan untuknya di rumah. Begitu pun dalam hal ini, penulis akan menggunakan nama Atha.  

"Iya Binan?" Gadis itu menoleh dengan ekspresi andalannya, ekspresi datar. 

"Ayo, sarapan Non. Tuan sudah menunggu." Bi Nani undur diri setelah mendapati anggukan dari Atha.  

Atha segera memakai blazer warna hijau tosca dan menyandang tasnya, lalu bergegas turun ke bawah. 

"Pagi Ayah." sapanya datar, seperti biasa.  

"Ayah harap ini sekolah terakhir kamu untuk dua tahun ke depan, Atha." ucap Airlangga—ayah Atha dengan tegas dan dingin. Atha tertegun. Ayahnya memang tidak akan mengubah sifat ketika berada di depannya. 

"Iya Ayah. Kejadian sebelumnya semoga tidak terjadi lagi dan–" ucapannya tiba-tiba terpotong oleh bentakan Airlangga.  

"Bukan semoga lagi, Atha! Tapi harus! Ayah sudah bosan datang ke sekolah-sekolah kamu dan meminta mereka untuk menutup mulut! Apa kamu tidak bisa mengendalikan diri agar tidak membuat masalah?"

Deg. Sebuah hati kembali pecah menjadi serpihan yang lebih kecil, lagi.  

"Iya Ayah. Tidak lagi. Atha janji nggak bakal ngecewain Ayah lagi." ucap Atha lirih. Kepalanya menunduk, tak berani menatap mata tajam Airlangga. Tanpa mengatakan apapun lagi, Airlangga segera menenteng tas kerjanya kemudian meninggalkan Atha dengan hati yang kembali jatuh berkeping-keping. 

To be continue...

Ayana Jihye Moon, Hijabers Cantik Asal Negeri Ginseng

Ayana Jihye Moon, Hijabers Cantik Asal Negeri Ginseng
Datang ke Indonesia Kenalin Ayana Jihye Moon Muallaf Asal Korea Selatan yang Cantiknya Tak Kalah Dari Bintang K-Pop
Nama Ayana Jihye Moon belakangan tengah menjadi perbincangan hangat publik. Wanita yang akrab disapa Ayana Moon itu adalah seorang mualaf asal Korea Selatan. Menariknya lagi, Ayana Moon kabarnya adalah mantan personel girlband K-Pop F-VE Dolls atau biasa disebut 5Dolls. Sayangnya, hingga saat ini Ayana belum pernah membahas lebih jauh soal keterlibatannya dengan girlband tersebut.
Ayana Moon sendiri mencuri perhatian karena kecantikannya yang kini semakin bertambah usai berhijab. Lewat sebuah video singkat yang diunggah ke akun YouTube pribadinya, perempuan kelahiran 28 Desember 1995 itu menceritakan perjalanannya menjadi seorang mualaf.
46.5k Likes, 1,007 Comments - Ayana Jihye Moon❤️ (@xolovelyayana) on Instagram: “아마도 올해 마지막 촬영. 내일 미팅만 끝내면 2017년도 정말 끝이구나. 1월부터 바쁠 2018년을 각오하며.. I think it’s the last photoshoot…”
Sebelum menjadi seorang muslim, Ayana Moon mengaku ketika masih kecil, dirinya membenci agama Islam. Kala itu terjadi perang di Irak dan sejak saat itu Ayana baru mengetahui ada agama Islam. Dulu Ayana lebih banyak mendengar orang memandang negatif agama Islam. Sehingga ia pun berpikir demikian soal Islam.

Namun rasa tertarik Ayana pada agama Islam terus bertumbuh. "Islam adalah teroris, Islam & Al Qaeda, Islam & Taliban. Semua itu berputar dalam benakku," ungkap Ayana. Sayangnya, saat itu dirinya belum bisa berbahasa asing. Alhasil, ia hanya mendapat informasi soal agama Islam dalam Bahasa Korea dan jumlahnya sedikit.
 36.1rb Suka, 623 Komentar - Ayana Jihye Moon❤️ (@xolovelyayana) di Instagram: “증명사진처럼.. Like my ID picture”



Hingga suatu hari, Ayana Moon mendapat kesempatan untuk mengikuti perkumpulan pemuda Muslim di Korea Selatan yakni Wamy Camp. Dari perkumpulan itu, Ayana pun banyak belajar soal Islam. "Ketika masuk ke ruang perkumpulan, aku melihat kakak yang sangat cantik. Tidak ada yang aneh di sini, tidak satu pun pakai baju hitam," katanya.

Sampai akhirnya, Ayana Moon melihat sisi lain dari Islam yang belum pernah ia ketahui sebelumnya. Sempat takut, Ayana pun mantap memeluk agama Islam. "Setiap minggu aku ikut program Salam Nuri di Masjid dan bertemu dengan mentorku Paman Amin. Aku belajar banyak darinya sampai aku menjadi muslimah," paparnya.

Sumber :
http://showbiz.liputan6.com/read/3222522/ayana-jihye-moon-mantan-idol-k-pop-yang-kini-berhijab

My Cool Fanboy - Prolog

Prolog

"Ahh anjir! Ganteng bangeettttt!" seru Fessa sambil menggigiti jarinya tanpa melepas pandangan terhadap ponselnya yang sedang memutar sebuah video performance dari boygroup kesukaannya.

"Jangan buka jangan buka pliss!" serunya lagi, mengundang perhatian para siswa yang sedang berlalu lalang di koridor. Fessa tidak peduli mereka akan mengiranya aneh. Toh, apa yang disukainya itu bukanlah urusan mereka.

Masih seru menonton video yang entah kapan habisnya atau mungkin memang diputar berulang-ulang, Fessa terus berjalan tanpa memperhatikan arah hingga ia menabrak sesuatu yang sedikit keras sedikit empuk namun berbau harum, menurutnya. Namun sayang sekali, kejadian kecil itu membuat ponselnya berakhir mengenaskan di lantai.

"Andwae! Oppa!" Fessa tentu saja histeris. Ponselnya kini menampilkan warna hitam bergaris. Video Oppa-Oppa tampannya kini lenyap.

Wajah Fessa mulai memerah. Dapat dipastikan darahnya sudah mendidih sampai ke ubun-ubun. Ditatapnya cowok berwajah datar yang ia tabrak tadi dengan tajam.

"Lo! Ganti rugi! Gara-gara lo hape gue mati dan gue nggak bisa mantengin bias gue!" sentak Fessa dengan menunjuk-nunjuk wajah cowok itu dengan sedikit berjinjit.

"Sorry" ucap cowok itu masih dengan wajah datar lalu berjalan meninggalkan Fessa dengan langkah lebarnya.  

Fessa mendengus keras-keras. Ia tidak suka diabaikan.

"Eh lo! Tunggu!" Fessa mengambil ponselnya lalu segera menyusul cowok itu dengan sedikit berlari kemudian langsung merentangkan tangannya untuk menghalangi langkah cowok itu.

Fessa menarik nafas panjang sejenak, kemudian berucap dengan raut muka serius, "Oke. Gini. Gue emang salah sih. Gue punya kelemahan terlalu fokus pada satu hal dan nggak merhatiin keadaan di sekitar gue. Karena tadi gue terlalu fokus mantengin video Oppa yang hampir buka abs dan akhirnya nabrak dada elo yang em..."

Fessa tidak melanjutkan kalimat panjangnya karena ia baru menyadari sesuatu.

Cowok itu hanya mengangkat sebelah alisnya, masih cukup sabar untuk mendengarkan ocehan Fessa yang jika diabaikan malah akan terus mengoceh dengan durasi lima kali lipat lebih lama.  

"...em... Maksud gue, gegara gue nabrak lo, jadinya hape gue ko-it. Dan gue nggak bisa nonton video itu lagi. Gue nggak keberatan sih, hape gue rusak, gue bisa beli yang baru. Tapiiii yang penting ituuu VIDEO OPPA-OPPA GUE JADI ILANG! Lo tau nggak gimana rasanya? Sakit! Sakitnya tuh di sini." ujar Fessa dengan sangat dramatis.

'Huft... Hampir aja.' batin Fessa. 

"So, Arshal yang katanya jurusan Mulmed, please bikin video Oppa-Oppa gue balik" mohon Fessa dengan memasang duck face.

Mendengus, cowok itu langsung mengambil ponsel Fessa dan bergegas pergi. "Oke,"

"Dua hari" lanjutnya.


To be continue...

Electric Shock - Chapter 2

Chapter 2  - HBD Atha mondar-mandir sambil meremas bagian bawah roknya. Posisinya sekarang berada di koridor lantai 3 Gedung IIS. Butu...