Chapter 1 - Pelo
Atha memandangi satu persatu teman sekelasnya. XI MIPA 1. Entah kenapa ia ditempatkan di kelas yang konon katanya
unggulan ini. Ia baru saja dipersilahkan duduk setelah sebelumnya
ditertawakan oleh seluruh penghuni kelas karena cara bicaranya yang
menurut mereka unik saat perkenalan tadi. Unik dari mananya coba? Orang cadel begitu. Mungkin saja akibat saking langkanya orang cadel, mereka sampai menganggap bahwa Atha unik karena termasuk salah satu spesies langka.
"Hai Pel! Kenalin gue Farizka. Panggil aja Fafa. Salam kenal." sapa
seorang gadis dengan nada ceria yang duduk di depan bangku Atha.
Mendengar kata 'Pel' membuat Atha ragu jika cewek yang bernama Fafa itu benar menyapanya. Pasalnya, nama lengkap Atha tidak ada unsur 'Pel'nya. Meskipun begitu Atha tetap membalas sapaan itu. "H-hai. Gue Lovely, atau panggil aja Atha."
Hidung Fafa kembang kempis. Cewek itu tampak berfikir. "Nggak ah. Gue
manggil lo Pelo aja. Pelo kan artinya sama kaya Cadel. Hehe."
"Tap–" Baru saja Atha akan menyanggah, seorang guru masuk dan langsung memulai kelas. Membuat Atha mengurungkan niatnya.
"Good Morning, class. How's life?"
.
Harapan Atha untuk menjadi unseen girl sepertinya harus pupus sekarang juga. Gadis yang duduk di depan bangku Atha terus saja berceloteh dan berulang kali memuji skill
Bahasa Inggris Atha yang sangat fasih karena ke-cadel-annya itu sampai
Atha bosan. Bahkan beberapa teman sekelasnya pun sekarang sedang
berbisik-bisik dengan murid kelas lain tentang dirinya di sepanjang
koridor. Oh ayolah, abaikan saja aku! Untuk apa repot membicarakan hal yang tidak penting?
Fafa menarik paksa lengan Atha yang masih terbungkus blazer hijau
toscanya. Beruntung International White School tidak memiliki aturan
seragam. Jadi dia bebas memakai apa saja asalkan bahan dan modelnya
masih tergolong seragam sekolah.
Atha ternganga melihat betapa luasnya kantin II yang bahkan penuh sesak dengan antrian ratusan siswa kelas XI. Ada banyak koki yang menyediakan berbagai macam makanan. Maklum saja, di sini adalah sekolahnya para anak borjuis.
"Lo mau makan apa Pel? Biar gue ambilin. Tenang aja, makan di sini gratis kok." tawar Fafa yang sukses mengalihkan fokus Atha.
"Em, gue pengen Bakso Malang sama jus apel dicampur jeruk." putusnya setelah melihat-lihat menu kantin.
"Oke, lo tunggu di sini ya," balas Fafa yang kemudian langsung ikut mengantri dengan para siswa lainnya.
Seorang siswa menarik bangku dan meletakkan nampan makan siangnya di
depan Atha. Gadis itu sedang asik memainkan game di ponselnya sampai
tidak menyadari suara gaduh yang dibuat oleh siswa tadi.
"Ehhmm!" lelaki tersebut sengaja berdehem untuk mengalihkan perhatian Atha, namun tetap saja gadis itu tidak bergeming.
Merasa diabaikan, lelaki itu merebut ponsel Atha kemudian nyengir
lebar mengetahui usahanya berhasil. Gerakan Atha untuk merebut kembali
ponselnya terhenti karena matanya terpaut dengan mata biru safir milik
lelaki itu. Sungguh damai dan menenangkan hatinya.
"Kak Yafi? Kok di sini? Kenapa nggak makan di kantin III?" ucapan Fafa
yang tiba-tiba sudah duduk manis di samping Atha memutuskan tautan mata
keduanya.
"Hai Fa. Gue lagi pengen makan di sini aja, sambil jalan-jalan." jawab lelaki yang bernama Yafi dengan santai.
"HOI Pel! Dari tadi ngeliatin Kak Yafi mulu. Naksir ya?" Atha yang
tertangkap basah sedari tadi sedang memperhatikan Yafi segera memutar
otak untuk mencari alasan.
"Ng-nggak kok. Gue cuma mau minta balik HP gue." kilahnya setengah
benar. Fafa yang bingung menaikkan alisnya meminta Yafi untuk
menjelaskan.
"Ini maksudnya?" Yafi memutar-mutar ponsel Atha dengan alis terangkat
sebelah. "Eitss," Cowok itu dengan sigap mengangkat ponsel Atha
tinggi-tinggi begitu Atha bergerak untuk merebutnya. "Kalo mau HP lo
balik, minta ke gue nanti pas pulang sekolah." tandasnya sebelum
meninggalkan kedua gadis yang terbengong-bengong karena ulahnya.
To be continue...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar