Chapter 2 - HBD
Atha mondar-mandir sambil meremas bagian bawah roknya. Posisinya
sekarang berada di koridor lantai 3 Gedung IIS. Butuh keberanian yang
besar untuk sampai di deretan kelas XII, apalagi ia baru sehari sekolah
di sini.
Atha melongok ke dalam kelas XII IIS 1 melalui pintu yang sedikit
terbuka. Terlihat seorang guru sedang mendongeng untuk menidurkan
siswa-siswinya. Masih sekitar 15 menit lagi bel pulang untuk kelas XII
berbunyi. Sedangkan untuk kelas X dan XI bel pulang sudah berbunyi
sekitar empat puluh lima menit yang lalu.
Tik tok tik tok tik tok
14:50
Sepuluh menit lagi...
Deg deg deg deg
Tit tit tit tit tit (jangan ngeres :'v)
120, 127, 130, 135
Heart Beat Detector milik Atha mulai berbunyi dan menunjukkan
angka merah. Artinya, sebentar lagi kekuatan yang ia punya akan muncul.
Ia semakin panik, jika kekuatannya sampai muncul, maka ia berada dalam
masalah.
Duh, gimana nih. Apa gue pulang aja ya? Tapi nasib HP gue gimana dong? Rahasia guee...!
Oke, tenang. Tarik nafas. Buang. Tarik nafas. Buang. Tarik nafas. Buang. Semakin ia panik, semakin cepat detak jantungnya.
14:59
Satu menit lagi...
Tit tit tit tit tit tit
137, 139, 140, 145
Kriinnngggg....
Para siswa kelas XII langsung berhamburan keluar kelas. Begitu juga dengan kelas milik Yafi yang sedari tadi ditunggu oleh Atha.
Keringat dingin mulai mengucur dari pelipis gadis itu. Diperhatikannya Heart Beat Detector yang sedari tadi terus berbunyi. Apalagi sekarang HBDnya menunjukkan tepat angka 150, angka patokan saat kekuatan Atha muncul.
Oh tidak! Oh tidak! Ini gawat! Jangan sampe ada yang nyentuh anggota badan gue kecuali yang tertutup kain!
"Hei!" tiba-tiba Yafi menepuk punggung dan membalikkan badan Atha yang
membelakanginya, lalu tersenyum lebar. Atha yang begitu khawatir
seseorang akan tersetrum karenanya, menjadi sedikit lega karena koridor
sudah sepi.
Pandangan Atha kembali terpaut dengan mata biru safir itu. Kepanikannya
berangsur menghilang. Detak jantungnya kembali normal, terbukti dengan
HBDnya yang tidak lagi berbunyi.
Mata itu, kenapa bikin deg-degan gue ilang?
"Gue tau kok lo terpesona sama ketampanan gue. Nggak usah lama-lama
natep mata gue, ntar lo jatuh cinta lagi. Kan gue yang repot. Ya nggak,
Lovely?" tuturnya sambil melirik nametag gadis itu.
Krik krik krik krik..
Atha melongo mendengar penuturan narsis dari cowok di depannya itu.
Gerakan menepuk jidat dan tembok di sampingnya tiga kali bergantian,
refleks Atha lakukan agar ucapan narsis itu tidak terwujud. "Amit
amiitt. Amit amiitt!" gumamnya yang masih dapat didengar jelas oleh
Yafi.
"Loh, kok amit-amit sih? Gue kan ganteng, banyak yang naksir, kenapa
malah lo kebalikannya?" tanyanya masih dengan tingkat kenarsisan yang
tinggi.
"Maaf ya, Kak. Tingkat kenarsisan lo itu terlalu membumbung tinggi. Ati-ati jatohnya sakit." cibir Atha membuat Yafi tergelak.
Teringat akan tujuan awalnya menunggu Yafi, Atha langsung to the point, "Mana HP gue Kak?"
Yafi merogoh saku celananya dan langsung menyodorkan ponsel berlogo buah
keluaran terbaru. "Nih. HP kok isinya cuma game," cibirnya.
"Siapa peduli?" jawab Atha acuh. Ia memilih untuk langsung pulang ke
rumah karena ponselnya sudah kembali. Saat ia akan menghubungi Pak
Bowo—sopir di rumah, ponselnya kehabisan baterai. Atha mendengus.
Bagaimana cowok ini bisa menghabiskan baterai ponselnya? "Lo bikin HP
gue lowbatt Kak? Kurang kerjaan banget."
Yafi menaikkan satu alisnya. "Gue puas-puasin main game di HP lo. Semua game udah gue coba. Nggak ada yang menarik."
Kening Atha mengernyit. Kalo nggak ada yang menarik kenapa bisa sampe lowbatt coba?
Daripada menghabiskan waktu dengan berbicara yang tidak penting, Atha
mempercepat jalannya ke arah gerbang sekolah. Menunggu taksi lewat
karena ia tak dapat melakukan apapun dengan ponselnya.
Apa gue pake kekuatan gue buat ngecharge HP aja ya? Eh nggak bisa, ntar kalo ketauan Kak Yafi gimana?
"Vel, tungguin gue dong! Masa orang ganteng ditinggalin."
"Siapa peduli? Lagian kan gara-gara lo HP gue mati dan nggak bisa minta
jemput. Dan gue harus naik taksi yang bahkan mungkin jarang lewat daerah
sini." ucap Atha ketus.
"Bilang aja lo minta gue anter pulang." ucap cowok itu dengan PDnya. Atha mendengus, "Nggak usah kePDan deh Kak."
"Ayo, pulang bareng gue aja. Atau, lo mau rahasia lo kebongkar?" ancam Yafi dengan senyum miring. Mendengar kata 'rahasia' membuat tubuh Atha menegang. Rahasia? Rahasia yang mana? Soal kekuatan gue atau apa? Oh! Rahasia di HP gue! Apa Kak Yafi tau semuanya? Ah, bego!
"Rahasia apaan? Sok tua!"
"Yang bener itu sok tau, bukan sok tua." koreksinya.
"Suka-suka gue dong. Rahasia apa yang lo tau?" tanya Atha penasaran, ia
harus memastikan rahasia apa yang Yafi ketahui tentang dirinya.
"Pulang bareng gue dulu, baru gue jawab pertanyaan lo."
To be continue...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar