(Bukan) Prolog
Cerita ini terinspirasi dari salah satu film yang dibintangi oleh
Punpun Sutatta, apabila ada kesamaan cerita bukan bermaksud untuk
memplagiat.
Selamat membaca!
International White School
Lovely Agatha Serafina
Seorang gadis memandangi nametag berlogo sekolahnya yang baru. Sekolah baru, lingkungan baru, kelas baru, guru baru, seragam baru, dan teman baru, lagi. Tunggu, mungkin kata teman baru tidak akan ada lagi di kamus hidup gadis itu.
International White School adalah sekolah Lovely yang ke-15 dalam setahun terakhir ini. Bukan, bukan karena ia seorang bad girl atau pembuat onar, ia adalah siswi pendiam dan berprestasi di kelasnya. Hanya saja, ia sudah bosan selalu berpindah sekolah. Ia juga bosan dengan kekuatan—atau bisa disebut kelemahan—yang ada pada dirinya. Setiap kali pihak sekolah mengetahui kekuatan yang ia punya, ia akan langsung mengundurkan diri dari sekolahnya dan mendaftar ke sekolah lain, tentu dengan kekuasaan ayahnya agar sekolah lamanya itu menutup mulut.
"Non Atha?" suara Bi Nani mengintrupsi lamunan Lovely. Agatha ataupun
Atha adalah nama panggilan untuknya di rumah. Begitu pun dalam hal ini,
penulis akan menggunakan nama Atha.
"Iya Binan?" Gadis itu menoleh dengan ekspresi andalannya, ekspresi datar.
"Ayo, sarapan Non. Tuan sudah menunggu." Bi Nani undur diri setelah mendapati anggukan dari Atha.
Atha segera memakai blazer warna hijau tosca dan menyandang tasnya, lalu bergegas turun ke bawah.
"Pagi Ayah." sapanya datar, seperti biasa.
"Ayah harap ini sekolah terakhir kamu untuk dua tahun ke depan, Atha."
ucap Airlangga—ayah Atha dengan tegas dan dingin. Atha tertegun. Ayahnya
memang tidak akan mengubah sifat ketika berada di depannya.
"Iya Ayah. Kejadian sebelumnya semoga tidak terjadi lagi dan–" ucapannya tiba-tiba terpotong oleh bentakan Airlangga.
"Bukan semoga lagi, Atha! Tapi harus! Ayah sudah bosan datang ke
sekolah-sekolah kamu dan meminta mereka untuk menutup mulut! Apa kamu
tidak bisa mengendalikan diri agar tidak membuat masalah?"
Deg. Sebuah hati kembali pecah menjadi serpihan yang lebih kecil, lagi.
"Iya Ayah. Tidak lagi. Atha janji nggak bakal ngecewain Ayah lagi." ucap
Atha lirih. Kepalanya menunduk, tak berani menatap mata tajam
Airlangga. Tanpa mengatakan apapun lagi, Airlangga segera menenteng tas
kerjanya kemudian meninggalkan Atha dengan hati yang kembali jatuh
berkeping-keping.
To be continue...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar